MakamWonobodro Biasanya Akan Dibanjiri Ribuan Orang Ketika Memasuki Bulan Ramadhan Dan Idul Fitri. Namun Paling Banyak Yakni Pada 13 Muharam, Tepat Tanggal Wafatnya / Khaul Syekh Maghribi banyak dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai sudut tanah air mulai dari Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan bahkan dari Luar Pulau Jawa.
SEMARANG, - Sebanyak 32 pemilik lapak di Jalan Yos Sudarso, Terboyo Kulon, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Jawa Tengah, mengeluh terancam tergusur karena pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak. Koordinator pemilik lapak Syekh Jumadil Kubro Terboyo Kulon, Ahmad Suranto mengatakan, pemilik lapak yang berada di sekitar Makam Syekh Jumadil Kubro sudah diminta untuk tidak buka selama tiga hari. Baca juga Tanah Diserobot dan Rumahnya Digusur, Emak-emak di Kendari Menangis di Kantor BPN Sultra "Teman-teman PKL disuruh off dulu sementara selama 3 hari karena ada pembangunan Tol Semarang-Demak," katanya saat ditemui di lapak miliknya, Kamis 8/6/2023. Dia menjelaskan, sebelumnya para pemilik lapak yang berjualan makanan dan jasa tambal ban di sekitar Makam Syekh Jumadil Kubro ditawari untuk pindah ke Terminal Terboyo Semarang. "Kita menolak kalau dipindah ke Terboyo. Karena sepi," kata dia. Namun, para pemilik lapak tersebut bersedia jika direlokasi di tempat yang masih berdekatan dengan Makam Syekh Jumadil Kubro. Keinginan tersebut telah dia sampaikan ke pemerintah. "Katanya nanti dari kelurahan dan kecamatan akan dianggarkan untuk bangun pusat kuliner di dekat Makam Syekh Jumadil Kubro. Namun masih wacana," paparnya. Menurutnya, banyak warga yang mengandalkan lapak tersebut untuk bekerja dan menghidupi keluarga. Dia berharap, pemerintah bisa adil agar warga Terboyo Kulon juga bisa mendapatkan manfaat. "Kita harapkan keadilan, karena kita orang kecil," imbuh dia. Informasi yang dia dapatkan, warga akan mendapatkan Rp 5 juta jika bersedia direlokasi dari tempat tersebut. Sampai saat ini Suranto masih melakukan komunikasi dengan pihak berwenang soal penggusuran lapak yang sudah dimanfaatkan warga selama puluhan tahun itu. "Iya kita menyadari jika ini memang tanah milik pemerintah. Kita sedang komunikasi dengan pembina kita. Kita mendukung pembangunan pemerintah tapi harapannya kita bisa direlokasi ke tempat yang kita inginkan," ujar dia. Dikonfirmasi terpisah, Kepala Satpol PP Kota Semarang, Fajar Purwoto menjelaskan jika kabar penggusuran tersebut masih wacana. Sampai saat ini Pemerintah Kota Semarang belum memutuskan. "Belum kita putuskan," kata Fajar saat ditanya soal rencana penggusuran tersebut. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Diantaranyaadalah perkara Syekh Siti Jenar, meninggalnya dua orang wali yaitu Maulana Muhammad Al Maghrobi dan Maulana Ahmad Jumadil Kubro serta masuknya dua orang wali menjadi anggota Walisongo. 1. Walisongo Periode Pertama Pada waktu Sultan Muhammad 1 memerintah kerajaan Turki, beliau menanyakan perkembangan agama Islam kepada para pedagang

Traveling tidak selalu soal senang-senang belaka, ada kalanya traveling justru dapat membuat iman kita semakin kuat. Jenis wisata yang mengedepankan spiritual ini dinamakan dengan wisata religi. Nah selain menziarahi tempat suci, wisata religi juga bisa berbentuk ziarah makam ulama. Jogja merupakan gudangnya’ makam ulama, sehingga Anda bisa menemukan dengan mudah tempat ziarah ulama di Jogja. Banyak orang yang menganggap bahwa makam ulama di Jogja memiliki nilai-nilai spiritual yang tinggi, sehingga layak dikunjungi. Tak hanya untuk urusan spiritual, ziarah ulama ini juga bisa ditujukan untuk urusan dokumentasi atau mengingat perjuangan kaum muslimin di masa lampau. Nah berikut ini kami akan membahas beberapa lokasi ziarah makam ulama terpopuler yang ada di Jogja. Makam Imogiri Tempat ziarah ulama di Jogja terpopuler yang pertama yaitu Makam Imogiri. Mengapa begitu populer? Karena di Makam Imogiri ini terdapat makam-makan Raja Mataram, dimana Kerajaan Mataram sendiri dikenal sebagai kerajaan yang menganut sistem Islam di masa lampau. Makam Imogiri sendiri dibangun atas prakarsa raja terbesar Kerajaan Mataram yaitu Sultan Agung pada abad 16 yang lalu. Lewat arsitek kepercayaan Sultan Agung yaitu Kyai Tumenggung Citrokusumo, komplek makam dibagi kedalam tiga komplek makam yaitu komplek Kasultan Agung, komplek raja-raja Surakarta, dan komplek raja-raja Yogyakarta. Dengan begitu banyaknya makam orang penting disini, Makam Imogiri tidak pernah sepi dari kunjungan pada traveler yang sedang berwisata religi. Daya tarik Makam Imogiri tidak hanya terletak pada makam-makam raja Mataram, namun juga pada desain komplek makamnya. Lewat sentuhan sang arsitek, Makam Imogiri ini didesain dengan sentuhan Islam dan Hindu. Makam Imogiri ini terletak di atas bukit, dimana traveler mesti menaiki 409 anak tangga. Nah Makam Imogiri ini terletak di Kecamatan Imogiri, Yogyakarta. Jika Anda tidak tahu rute menuju Makam Imogiri, sebaiknya Anda memesan paket wisata Jogja agar Anda mendapatkan panduan dan layanan wisata religi yang tepat. Nah komplek makam dibuka setiap hari mulai dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore, lalu dibuka kembali pada jam 8 malam. Dilarang menggunakan pakaian yang tidak sopan di komplek makam dan traveler mesti berlaku sopan. Makam Syekh Maulana Maghribi Bagi Anda yang belum tahu, Syekh Maulana Maghribi merupakan nama asli dari Sunan Gresik. Sunan Gresik sendiri merupakan salah seorang Walisongo yang dikenal sebagai ulama pertama yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa. Itulah mengapa komplek makam Makam Syekh Maulana Maghribi di Bantul ini selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah ataupun traveler yang sedang berwisata religi. Komplek makam Syekh Maulana Maghribi juga berdekatan dengan Pantai Parangtritis, sehingga pengunjung bisa melihat pemandangan laut yang sangat indah. Nah komplek makam Sunan Gresik ini berada di atas bukit, sehingga pengunjung mesti menaiki beberapa anak tangga. Setelah sampai di atas, pengunjung bisa menemukan beberapa spot menarik seperti mushola, candi, dan tentunya area makam Sunan Gresik. Komplek Makam Dongkelan Tempat ziarah ulama di Jogja paling terkemuka lainnya yaitu komplek makam Dongkelan. Komplek makam Dongkelan ini terletak di sebelah Masjid Patok Negara Dongkelan Kauman, Bantul. Bagi Anda yang tidak tahu rutenya, sebaiknya menggunakan layanan paket wisata Jogja. Nah komplek makam ini selalu ramai dikunjungi peziarah, khususnya dari kalangan santri. Terdapat beberapa makam ulama besar disini, yang paling populer yaitu KH. M. Munawir atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Munawir. Mbah Munawir sendiri dikenal sebagai ulama besar pada zaman kolonialisme Belanda, dan menjadi tokoh sentral dalam perkembangan Islam di Yogyakarta. Selain makam Mbah Munawir, masih terdapat beberapa makam ulama besar lainnya, sehingga sangat recommended dijadikan tempat wisata religi. Petilasan Syekh Jumadil Kubro Bagi Anda yang belum tahu, Syekh Jumadil Kubro merupakan bapak dari Walisongo. Mengapa disebut bapak dari Walisongo? Karena beberapa Walisongo diyakini merupakan cucunya Syekh Jumadil Kubro. Nah Syekh Jumadil Kubro juga dianggap sebagai penggagas sistem Islam di Pulau Jawa, hingga ia dianggap sebagai tokoh Islam paling penting selain Walisongo di masa lampau. Nah petilasan Syekh Jumadil Kubro terletak di Dusun Turgo, Kaliurang, yang berada di kaki Gunung Merapi. Karena lokasinya lumayan jauh dari keramaian, direkomendasikan agar traveler menggunakan jasa pemandu wisata. Masjid Pathok Negoro Plosokuning Tempat ziarah ulama terpopuler lainnya di Jogja yaitu Masjid Pathok Negoro Plosokuning. Nah Masjid Pathok Negoro Plosokuning dianggap sebagai masjid besar pertama yang ada di Jogja. Masjid ini dibuat oleh Sultan Hamengku Buwono I, sehingga dianggap sebagai pondasi kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Terdapat banyak makam ulama besar disini, sehingga bagi Anda yang sedang wisata religi di Jogja, sebaiknya mengunjungi Masjid Pathok Negoro Plosokuning ini. Nah itulah beberapa tempat ziarah ulama di Jogja yang bisa Anda kunjungi selama masa liburan tiba. Selain dapat meningkatkan spirit keimanan, Anda pun bisa menambah wawasan tentang sejarah Islam di tanah Jogja. Karena tidak sepopuler tempat wisata pada umumnya, sebaiknya Anda menggunakan jasa pemandu saat berwisata religi di Jogja.

Avesiar- Jakarta. Sunan Giri. Adalah putra Maulana Ishaq. Sunan Giri adalah keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, merupakan murid dari Sunan Ampel dan saudara seperguruan dari Sunan Bonang.. Ia mendirikan pemerintahan mandiri di Giri Kedaton, Gresik; yang selanjutnya berperan sebagai pusat dakwah Islam di wilayah Jawa dan Indonesia timur, bahkan sampai ke Kepulauan
Yogyakarta menyimpan banyak destinasi wista religi yang juga menyimpan nilai sejarah, lho. Cek rekomendasinya di Religi Yogyakarta - Pada dasarnya, setiap orang tentu punya tujuan yang berbeda-beda ketika ingin berwisata. Ada sebagian orang yang memang suka berjalan-jalan dan mengeksplorasi tempat-tempat baru baginya. Ada juga yang hanya mencari hiburan semata dan sekadar ingin melakukan swafoto dan menunjukkan eksistensi antara itu, ada juga sebagian besar orang yang tujuannya dalam berwisata adalah ingin mendapatkan ketenangan batin. Untuk itu, kamu harus melakukan wisata religi agar bisa mendapatkan ketenangan salah satu daerah di Indonesia yang terkenal punya beragam wisata religi adalah Jogja. Selain terkenal akan wisata budaya yang kental dan kekayaan alamnya, Yogyakarta juga punya berbagai jenis wisata religi yang layak dari Masjid, Gereja, Pura, Kelenteng, semuanya ada di Jogja. Nah, berikut ini adalah beberapa wisata religi Jogja yang bisa kamu datangi saat berlibur ke sana!Wisata Religi Yogyakarta1. Masjid Gedhe KaumanLokasi Alun-Alun Keraton, Jl. Kauman, Ngupasan, Kec. Gondomanan, Kota YogyakartaMasjid ini sudah berdiri sejak tahun 1773. Masjid ini sendiri didirikan oleh Sultan Hamengkubuwono I. Beliau ini juga merupakan pendiri dari Kesultanan Jogja. Karena itu, Masjid Gedhe Kauman merupakan bagian tidak terpisahkan dari Kesultanan arsitektur, Masjid Gedhe Kauman tampak cukup mirip dengan Masjid Demak. Masjid Gedhe Kauman sendiri memiliki bangunan utama liwan, serambi, serta emperan. Masjid ini juga punya empat pilar utama yang dilengkapi atap bersusun atap Masjid Gedhe Kauman pun punya hiasan mahkota berbentuk bunga. Hal ini sebagai penanda bahwa masjid ini merupakan milik Keraton Jogja. Di dalam masjid ini juga terdapat ruang khusus untuk sang raja. Ruangan yang disebut maksura ini terletak di baris paling depan Masjid KotagedeLokasi Jl. Watu Gilang, Kotagede, Bantul, YogyakartaMasjid Kotagede merupakan masjid tertua di Jogja. Pasalnya, masjid ini diperkirakan sudah berdiri sejak tahun 1640. Pembangunan masjid ini sendiri diprakarsai oleh Sultan Agung. Pembangunannya juga dibantu oleh penduduk sekitar Kotagede yang kala itu mayoritasnya merupakan penganut agama itu, Masjid Kotagede bisa dibilang memiliki arsitektur gabungan dari budaya Jawa dan Hindu. Sebab, gapura atau pintu gerbang dan pagar tembok yang mengelilingi masjid punya arsitektur Hindu yang kental. Sementara bangunan masjidnya dibuat dengan arsitektur sejumlah bangunan di dalam kompleks Masjid Kotagede antara lain mimbar, serambi, tempat wudhu, tugu peringatan, gapura, dan makam. Ketika masuk ke area masjid, kamu akan melihat kolam ikan sebelum area Masjid Kotagede juga dikelilingi oleh berbagai jenis pohon sehingga suasananya menjadi rindang dan asri. Selain itu, ada sebuah prasasti dengan huruf Arab dan berbahasa Jawa yang terdapat di dalam Masjid Kotagede sendiri diketahui punya atap bertingkat dua. Atap tingkat atas punya bentuk segitiga yang punya sudut runcing. Adapun, atap tingkat bawah punya bentuk segitiga juga, namun terpotong pada bagian Gereja GanjuranLokasi Jl. Ganjuran, Bantul, YogyakartaGereja ini didirikan di tahun 1924 oleh inisiasi 2 kakak beradik keturunan Belanda, yakni Joseph Smutzer dan Julius Smutzer. Perlu diketahui, gereja ini sendiri dirancang arsitek asal Belanda, J Yh Van Oyen. Tiga tahun setelah dibangun, kompleks gereja ini disempurnakan dengan kehadiran candi kecil di Gereja Ganjuran merupakan akulturasi budaya Eropa, Jawa, dan Hindu. Sebab, bangunan gerejanya masih menggunakan arsitektur gaya Eropa. Sedangkan budaya Jawa terlihat pada patung Yesus dan Bunda Maria dengan busana khas nuansa Hindu diperlihatkan dengan candi yang berada di kompleks gereja. Perlu diketahui, ada mata air di bawah candi yang menjadi tujuan para pengunjung. Umumnya, para pengunjung akan mengambil air tersebut dan membawanya pulang dengan botol atau jerigen kecil setelah Pura JagatnathaLokasi Jl. Pura No. 370, Bantul, YogyakartaPura ini didirikan pada tahun 1967 saat mayoritas penduduk sekitar di area ini memeluk agama Hindu Dharma. Pada umumnya, orang yang bersembahyang di pura di tempat yang terbuka, sementara, bangunan pura ini memiliki atap pada bangunan tengahnya. Pura ini merupakan tempat bertapa Sultan Hamengku Buwono II yang kemudian diberi gelar Ki Banguntapa. Pura yang merupakan salah satu pura terbesar di Yogyakarta ini merupakan tempat peribadatan utama bagi pemeluk agama Budha di Provinsi Yogyakarta. Bahkan, tidak jarang wisatawan turut datang ke Pura Jagatnatha untuk menikmati suasana seperti Bali di Dusun MlangiLokasi Desa Nogotirto, Sleman, YogyakartaDusun Mlangi ini juga terkenal dengan nama Desa Para Santri. Hal tersebut dikarenakan banyaknya pesantren di Dusun Mlangi, sehingga mayoritas penduduk yang masih muda adalah santri-santri dari berbagai wilayah di Indonesia yang jumlahnya mencapai orang. Bagi kamu yang ingin menikmati suasana religius di Yogyakarta, kamu bisa mengunjungi Dusun Mlangi. Selain itu, di dusun ini juga terdapat salah satu tempat yang sering didatangi oleh wisatawan, yaitu makam salah satu tokoh penyebar Agama Islam di Mlangi, yaitu Kyai Nur Iman. Namun, tidak hanya wisatawan yang juga beragama Islam yang mengunjungi dusun ini, melainkan banyak komunitas, pelajar, maupuin tokoh agama lain pastor, pendeta, dll yang ingin menambah wawasan mengenai Agama Kampung JogokariyanLokasi Jl. Jogokaryan, Matrijeron, YogyakartaKampung Jogokariyan merupakan salah satu kampung Ramadan yang paling populer di Yogyakarta. Salah satu tujuan wisata di kampung ini adalah Masjid Jogokariyan yang telah dibangun pada tahun 1966. Masjid ini kemudian sangat berkembang sehingga memiliki berbagai kegiatan pelayanan jamaah dan kegiatan-kegiatan. Pengurus masjid ini terdiri dari 28 divisi yang masing-masing memiliki tujuan untuk kebaikan bersama dan memiliki website. Usut punya usut, masjid ini terkenal hingga mancanegara. Tamu yang pernah mengunjungi masjid ini meliputi parlemen Eropa, ulama dari Palestina, dan masih banyak lagi. Kegiatan selama bulan Ramadhan yang dinantikan masyarakat adalah tarawih bersama imam dari Palestina, pentas nasyid, hingga makanan buka puasa yang dapat dinikmati untuk Makam Syekh Jumadil Kubro - Turgo MerapiLokasi Hargobinangun, Sleman, YogyakataBerada di lereng barat Gunung Merapi, terdapat sebuah makam dari seorang tokoh Islam, Syekh Jumadil Kubro. Pendatang banyak yang jauh-jauh kesini untuk melakukan ziarah ke makam tokoh agama ini. Selain melakukan ziarah, masyarakat juga bisa menikmati pemandangan Gunung Merapi dari tempat ini. Bahkan, pemerintah setempat juga merencanakan beberapa rencana terkait pengembangan pariwisata di Hargobinangun agar lebih memperkenalkan wisata religi memudahkan wisatawan mengunjungi dan melakukan ziarah ke makam Syekh Jumadil Kubro, seperti membangun sarana fisik dan perbaikan akses menuju makam yang eksistingnya berupa jalan setapak dengan jalur menuju Bukit Turgo Merapi. Syekh Jumadil Kubro adalah kakek dari para wali penyebar Agama Islam di Jawa, Wali Kampung NitikanLokasi Jalan Sorogenen, Nitikan, YogyakartaSetelah Kampung Jogokariyan, Jalur Gaza di Kampung Nitikan juga merupakan tujuan wisata di bulan Ramadhan yang juga tidak kalah terkenal. Jalur Gaza merupakan singkatan dari Jajanan Lauk Sayur Gubuk Ashar Zerba Ada yang mana setiap tahunnya terdapat 300 pedagang di sepanjang jalur ini. Selain menyediakan berbagai macam takjil di sepanjang jalur, ada juga berbagai acara yang digelar masyarakat, baik lomba lukis, lomba menggambar, hingga dialog Ramadhan. Ada juga destinasi wisata lain yang juga menarik di Kampung Nitikan, yaitu makam-makam tokoh besar, seperti Kyai Haji Ibrahim, Kyai Haji Ahmad Dahlan, Kyai Haji Abu Bakar, dan Raden Ronggo putra dari Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram. Pengunjung dapat berwisata dengan tarif yang sangat murah, yaitu untuk jalan kaki dan untuk naik Pura Vaikuntha VyomantaraLokasi Komplek Lanud Adisutjipto, Jl. Raya Janti, Karang Janbe, Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281Pura ini berada di kompleks Landasan Udara Lanud Adisutjipto. Pura dengan luas lahan 50 hektar ini dibangun sejak tahun 1997 dan selesai pada tanggal 23 Mei 2007. Pura ini sendiri dibangun bagi umat Hindu yang bertugas di Lanud tahun, akan ada Upacara Pawedalan Pura Vaikuntha Vyomantara yang akan dilakukan di sini. Selain untuk kepentingan ibadah, pura ini dibuka bagi pengunjung umum. Meski begitu, sebaiknya meminta izin terlebih dahulu kepada pengurus pura ini sebelum berkunjung ya!10. Klenteng GondomananLokasi Jalan Brigjen Katamso Gondomanan, Kota Yogyakarta,Daerah Istimewa Yogyakarta 55121L;enteng Gondomanan merupakan salah satu kelenteng legendaris di Jogja. Kelenteng yang juga dikenal sebagai Kelenteng Fuk Ling Miau ini dibangun sejak tahun 1900. Pada awalnya, tanah kelenteng ini merupakan pemberian Sultan Hamengku Buwono di tahun khas dari Klenteng Gondomanan sendiri ada pada bagian atapnya yang dihiasi sepasang naga langit menghadap mutiara api. Selain itu, cat warna merah kuning pada kelenteng ini juga dapat diartikan sebagai simbol informasi, Kelenteng Gondomanan sudah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak tanggal 26 Maret 2007. Kelenteng ini juga telah menjadi warisan budaya Jogja kategori tempat ibadah sejak tanggal 15 April Gua Maria SendangsonoLokasi Semagung, Samagang, Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55672Berada di kaki Bukit Menoreh, udara sejuk akan langsung menyambutmu saat berada di kompleks Gua Maria ini. Sesuai namanya, di lokasi Gua Maria ini juga terdapat sebuah sendang atau yang dalam bahasa Indonesia disebut mata mendapatkan ketenangan batin dan berdoa di sini, kamu juga dapat menikmati arsitektur kompleks Gua Maria Sendangsono yang indah. Arsitektur ini dirancang oleh Mangunwijaya Pr dan sudah mendapatkan Aga Khan menikmati seluruh bangunan kompleks ziarah ini, kamu bisa duduk bersantai di pendopo yang tersedia. Kamu juga bisa menikmati keindahan sungai yang mengalir dengan berdiri di jembatan kecil pada bagian lupa untuk mengambil air sendang dari keran-keran yang terdapat pada sisi kanan sungai. Sebab, air sendang di sini dipercaya para pengunjung punya banyak Klenteng PoncowinatanLokasi Jl. Poncowinatan Gowongan, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55233Selain Klenteng Gondomanan, kelenteng yang punya nama lain Kwan Tee Kiong ini merupakan kelenteng tertua di Jogja. Kelenteng Poncowinatan diketahui telah berdiri sejak tahun seperti Klenteng Gondomanan, tanah kelenteng ini juga merupakan pemberian dari Sultan Hamengku Buwono VII. Karena itu, Kelenteng Poncowinatan dibangun menghadap ke arah selatan untuk menghormati Keraton ini, Klenteng Poncowinatan digunakan sebagai tempat pemujaan Tri Dharma, yakni Buddha, Taoisme, dan Konghucu. Kelenteng ini juga telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah sejak tahun dari banyaknya tujuan wisata religi yang kuno nan indah di Yogyakarta, 8 rekomendasi ini dapat kamu masukkan ke itinerary liburanmu. Selain melihat bangunan dengan arsitektur yang indah, kamu bisa mendapatkan banyak wawasan saat mulai rencanakan kunjunganmu ke Yogyakarta melalui aplikasi Traveloka dari sekarang.
Takjarang orang juga menyewa Hiace Premio untuk melakukan perjalanan religi di Jogja. Contohnya saat akan mengunjungi makam Syekh Maulana Maghribi, atau petilasan Syekh Jumadil Kubro, serta beragam destinasi wisata lainnya. Anggota rombongan ziarah biasanya tidak terlalu besar, sehingga akan lebih cocok apabila menggunakan sewa Hiace murah ini.
Syekh Jumadil Qubro dipercaya sebagai salah satu ulama yang menyebarkan agama Islam di Nusantara. Mojok melakukan ziarah ke kaki Gunung Merapi, tepatnya di puncak Bukit Turgo yang dipercaya sebagai tempat peristirahatannya yang terakhir.***“Lekasana seka lor,” pesan itu sudah sangat sering saya terima dari orang-orang dengan berbagai latar belakang. Pesan ini berkaitan dengan perjalanan saya menelusuri makam-makam kuno di Jogja di waktu belakangan. Mulailah dari utara, begitu semesta Jogja, utara berarti Merapi, salah satu unsur penting di garis imajiner Jogja. Sementara dalam semesta penggemar ziarah, utamanya makam kuno dan makam ulama, utara merujuk ke salah satu bukit di selatan Merapi. Sebuah bukit yang konon melindungi daerah Turi dan sekitarnya dari aliran lahar demikian nama bukit dengan elevasi sekira mdpl ini. Area bukit berisi vegetasi hutan yang pengelolaannya berada di tangan PT Perhutani. Di puncak bukit, terdapat sebuah makam, sebagian lainnya menyebut petilasan, dari seorang tokoh ulama besar di tanah Jawa Syekh Jumadil Qubro.***Cerah puncak Merapi beserta dua bukit di sisi selatan, Turgo dan Plawangan, menyapa tatkala saya melintas jalan raya Turi-Pakem. Namun, mendung tiba ketika saya sudah dekat dengan tujuan. Puncak Merapi samar adanya, tertutup kabut. Di sebuah warung kecil saya berhenti dan memarkirkan motor sebelum masuk ke area berjalan 100 meter, anak tangga menyambut. Ini adalah bangunan baru. Dulunya, jalan naik menuju petilasan adalah jalanan tanah khas medan pegunungan. Peziarah harus menapaki jalanan tanah dengan kemiringan beragam, bahkan bisa lebih dari 45⁰. Di beberapa lokasi, dulunya dipasangi tambang untuk memudahkan peziarah mendaki sang mubaligSemua raja Mataram Islam di masa lalu tentu saja orang asli Jawa, dengan nama khas Jawa. Namun, jika silsilah itu dirunut hingga ke atas, alur silsilah akan bercampur dengan nama-nama raja Majapahit dan nama-nama khas timur tengah dengan gelar Syekh’. Salah satu nama di bagian atas garis silsilah adalah Syekh Maulana Magribi. Ketika nama satu ini dirunut lebih ke atas lagi, akan ditemukan nama Syekh Jumadil Qubro atau Syekh Jumadil Kubro. Nama ini, konon, merupakan sesepuh dari Wali Sanga, tokoh penyebar Islam paling kondang dalam sejarah Jawa pasca-Majapahit. Saya bilang konon, sebab nama ini belum terlalu terang garis menuju petilasan Syekh Jumadil Qubro. Syaeful Cahyadi/ hikayat tentang Syekh Jumadil Qubro tidak terlepas dari aneka makam dengan nama serupa di Semarang, Jawa Tengah dan di Mojokerto, Jawa Timur. Sementara bangunan di puncak Bukit Turgo ini, sebagian orang mempercayainya sebagai makam, sebagian lain percaya ini hanya petilasan. “Tapi pasti cuma petilasan,” seorang pria yang mendaki bersama saya berpendapat. “Coba, dulu siapa yang memakamkannya wong lokasinya di puncak gunung begini,” demikian alasan pria tadi. Logikanya masuk akal memang, orang modern kebanyakan juga mungkin akan berpikiran serupa. Namun, kisah-kisah tokoh silam toh tidak semuanya masuk akal jika Ahmad Muwafiq atau biasa dikenal dengan nama Gus Muwafiq adalah tokoh agama yang percaya bahwa makam yang ada di Bukit Turgo memang makamnya Syekh Jumadil Qubro. Dalam sebuah tayangan di channel YouTube, ia menyebutkan orang-orang dulu menjadikan gunung untuk menepi. Ia meyakini bahwa makam di Turgo, di kaki Gunung Merapi yang masuk wilayah DIY. “Zaman Rasulullah ada Ka’bah, tetapi beliau menepi di Gua Hira, jadi gunung bagi orang dulu itu sebagai tempat bermunajat kepada Allah SWT,” katanya. Nama Syekh Jumadil Qubro bisa ditemukan di silsilah Syekh Maulana Magribi sebagai kakek dari mubalig dengan makam di Mancingan, Parangtritis ini. Silsilah tersebut disusun pihak Kraton di silsilah Kyai Nur Iman- masih disusun Kraton Yogyakarta – ada nama Sayidina Ibrohim Asmoro dengan nama lain Zinal Akbar Jumadil Qubro. Ia ditulis sebagai keturunan ke-21 Nabi Muhammad dan kelak beranak Sunan Ampel serta punya keturunan Sultan Trenggono, raja ketiga Babad Tanah Jawi Olthof, 2017, disebut nama Makdum Brahim Asmara, seseorang yang berasal dari Campa sekitar Vietnam sekarang dan kelak beranak Raden Rahmat serta Raden Santri. Kata makdum bukanlah nama, melainkan sebutan bagi penyiar agama. Kedua putranya ini suatu kali izin ke sang ayah untuk berkunjung ke pamannya yang jadi raja di Majapahit Rahmat kelak menikah dengan Gede Manila, anak Tumenggung Wila Tikta. Nama Tumenggung ini juga ada di silsilah Maulana Magribi dan disebut sebagai bupati Tuban. Kelak, sosok ini akan beranak Raden Mas Said atau Sunan jika merujuk ke Babad Tanah Jawi, andai Makdum Brahim Asmara adalah Syekh Jumadil Qubro, ada hubungan antara ulama satu ini dengan penguasa Majapahit yang disebut sebagai paman’.Kebalikan dengan Babad Tanah Jawi, Raffles dalam History of Java menulis nama Syeik Mulana Jumadil Kubra sebagai pengikut Raden Rachmad, anak ulama Arab yang menikah dengan salah satu putri raja Champa. Jumadil Kubra versi Raffles disebut telah menetap lama di Gunung Jati ketika Raden Rachmad mengunjungi Jawa. Kejadian ini bertarikh sekitar tahun 1334 Jawa sekitar 1409 Masehi.Tempat yang disebut sebagai makam Syekh Jumadil Qubro di Bukit Turgo. Syaeful Cahyadi/ Raffles juga menulis nama ini dengan ini sebutan Sunan Agum, salah satu dari 8 penyebar agama yang menemani Raden Patah kembali ke Demak selepas upacara pemakaman Sunan Ampel. Mereka juga disebut membantu pembangunan masjid pada tangga terus saya titi, perlahan. Terkadang ditemani nafas tersengal. Menjelang puncak, ada satu aula kecil dengan atap terpal. Dari sana, anak tangga akan kian terjal sebelum sampai di area ini sekilas lebih tampak seperti sebuah tugu. Bangunannya terbuat dari keramik berwarna hitam di bagian bawah dan bagian atasnya berwarna putih dengan ukuran sekitar 2,5 X 1,5 meter. Petilasan ini dibangun lewat sumbangan seorang peziarah, setidaknya itu bisa ditemukan lewat plakat di bagian bawah petilasan dan tulisan di ini baru adanya, hasil renovasi jua. Dulunya, petilasan ini berbentuk bangunan kotak berlapis keramik putih dengan tirai kain putih di sekelilingnya. Satu hal pasti, jika cuaca cerah, petilasan ini akan berlatar belakang Gunung Merapi. Siapapun salat, berdoa, atau sekadar duduk-duduk di sini, ia akan dinaungi Eyang Kunci yang telah pergiNasihat agar saya memulai ziarah dari utara agaknya bukan hal aneh jika merujuk ke silsilah Syekh Jumadil Qubro. Nama ini jauh lebih tua dibanding raja-raja dan ulama-ulama Jawa pasca-Majapahit. Jika Sunan Ampel saja sudah ada sejak masa Majapahit, artinya syekh legendaris ini juga sudah ada sejak masa kerajaan yang sisi lain, menggali informasi soal Syekh Jumadil Qubro dari warga sekitar Turgo juga tidaklah mudah. Ketika turun dari puncak, saya berbincang dengan seorang warga penjual kopi. Darinya, saya tahu jika petilasan ini punya 2 jalan naik. “Satu jalan lain lewat Alas Bingungan, tidak disarankan lewat sana karena masih berupa hutan dan orang sering tersesat dan dibuat bingung.” Bahkan, pria itu menjelaskan, warga sekitar pun menghindari naik ke bukit lewat hutan itu. Jalan via Alas Bingungan inilah yang akan ditunjukkan aplikasi Google Maps jika memasukkan kata kunci “Makam Syekh Jumadil Qubro”.Saat saya bertanya keberadaan juru kunci, pria itu menunjukkan sebuah bekas rumah di dekat jalan masuk ke hutan. Bangunan itu tinggal menyisakan tembok semata dan dikelilingi ilalang liar.“Itu dulu rumahnya juru kunci petilasan, tapi beliau sudah meninggal terkena wedhus gembel tahun 1994,” terangnya. Kini, petilasan ini tidak punya juru kunci sama atau ada yang menyebut sebagai petilasan Syekh Jumadil Qubro di Turgo yang jadi tempat ziarah. Syaeful Cahyadi/ petilasan, Bukit Turgo juga sering dimanfaatkan pelaku spiritual untuk melakoni lelaku tertentu. Tempat yang digunakan adalah 3 goa peninggalan Jepang. Salah satu goa ini berada di tepi tangga menuju petilasan. Tampak beberapa benda seperti botol air dan wadah bekas minuman, tanda bahwa goa ini sering dijamah tadi juga berkisah, hampir tidak ada ziarah rutin dari warga sekitar di makam Syekh Jumadil Qubro. Acara merti dusun misalnya, lebih tertuju pada berbagai mata air di sekitar Bukit Turgo dibanding petilasan ini.***“Lekasana seka lor,” dan kata-kata itu terus terngiang di kepala saya. Bukit sudah saya daki, arah utara telah saya datangi. Kisah soal Jumadil Qubro atau Brahim Asmoro tetap saja abu-abu bagi saya. Warga dan pemerhati sejarah boleh saja bilang tempat di puncak Turgo ini hanyalah petilasan. Namun, itu tetap tidak menyurutkan magnet yang menarik banyak peziarah datang ke puncak bukit di tepi kali Boyong ini.“Mugi berkah njih,” demikian ucap seorang pria yang berpapas dengan saya ketika turun. Apapun itu, utara sudah saya ziarahi dan doa sederhana telah saya panjatkan berteman kabut gunung. Petualangan saya belum berakhir. Masih ada aneka makam kuno dengan kelindan kisahnya bersinggungan dengan Syekh Jumadil Qubro yang siap saya ziarahi di waktu Syaeful Cahyadi Editor Agung PurwandonoBACA JUGA Rasanya Tinggal Bersama Makam-makam Tua di Njeron Beteng Keraton JogjaTerakhir diperbarui pada 18 November 2022 oleh Agung Purwandono
Angkatanke-3 (1463 - 1466 M), terdiri dari Sunan Ampel, Sunan Giri yang tahun 1463 menggantikan Maulana Ishaq, Maulana Ahmad Jumadil Kubro (wafat 1465), Maulana Muhammad Al-Maghrabi (wafat 1465), Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang yang tahun 1462 menggantikan Maulana Hasanuddin, Sunan Derajat yang tahun 1462 menggantikan Maulana
PORTAL JOGJA – Di kawasan lereng selatan Gunung Merapi wilayah Kabupaten Sleman, Provinsi DI Yogyakarta ada petilasan dan makam Syeh Jumadil Kubra. Tepatnya di Bukit Turgo yang merupakan nama sebuah bukit dan dusun yang terletak di Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem atau di sebelah barat kawasan wisata Kaliurang. Bukit Turgo selama ini juga dikenal sebagai kawasan wisata alam dan religi. Kawasan itu juga perna diterjang awan panas Merapi tahun 1994. Bukit Turgo mempunyai ketinggian 1000 mdpl, sebuah bukit kecil yang tampak indah kalau dilihat dari kawasan selatan dan masuk kawasan Taman Nasional Gunung Merapi TNGM habitat aneka satwa dan tanaman langka. Namun karena aktivitas Gunung Merapi saat ini berstatus Siaga Level 3 ini, kawasan Turgo ditutup untuk umum. syeh makukuhan Baca Juga Kisah Syekh Subakir, Tokoh Islamisasi di Jawa, Makamnya Ada di Gunung Tidar Magelang Makam Syeh Jumadil Kubra di lereng Gunung Merapi tepatnya di puncak bukit itu hingga kini jadi tempat wisata religi. Bagi sebagian masyarakat banyak yang mengenal sosok Syeh Jumadil Kubra sebagai penyebar agama Islam periode awal di Pulau Jawa, Hingga kini makam maupun petilasan Syeh Jumadil Kubra banyak dikeramatkan dan menjadi tempat ziarah. DINAS Pariwisata Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta DIY menyebutkan, peziarah petilasan atau makam Syekh Jumadil Kubro di Bukit Turgo Purwobinangun, Pakem, semakin meningkat setelah dibangun jalur baru, yang representatif menuju lokasi wisata religi tersebut. “Banyaknya peziarah atau wisatawan ini karena sekarang para peziarah lebih mudah untuk melakukan ziarah ke petilasan Syekh Jumadil Kubro dikarenakan sudah dibangun jalur jalan yang representatif menuju ke lokasi oleh Provinsi DIY sejak 2021,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Ishadi Zayid menukil Antara. Menurut Ishadi, sebelum dibangun jalur baru yang representatif rata-rata jumlah peziarah atau wisatawan sebanyak 400 hingga 500 pengunjung per bulan. “Setelah jalur jalan menjadi lebih nyaman dan aman, kunjungan peziarah atau wisatawan meningkat sekitar pengunjung per bulan,” katanya. BACA JUGA 5 Wisata Religi di Tanah Jawa Cocok Dikunjungi saat Momen Maulid Nabi Muhammad Ia mengatakan, pembangunan jalan yang representatif tersebut memudahkan peziarah untuk sampai ke lokasi yang berada di lereng Gunung Merapi. “Kami sangat mengapresiasi yang tinggi kepada Pemerintah Provinsi DIY yang telah memberikan perhatian dalam pengembangan destinasi wisata religi di Kabupaten Sleman,” katanya. Sebelum dibangun jalan yang baru lanjut Ishadi, jalur menuju ke lokasi petilasan berupa jalan setapak sangat sempit dan di beberapa ruas jalan dalam kondisi licin serta belum terdapat pagar pengaman. “Kondisi tersebut cukup berbahaya karena banyak jalur yang terjal dan dekat dengan jurang,” katanya. Dengan dibangunnya jalur permanen tersebut tentu sangat membantu kemudahan para peziarah untuk mencapai lokasi dengan relatif lebih mudah dan lebih aman. “Selain wisata religi, pengunjung juga dapat berwisata menikmati pemandangan alam ke semua arah termasuk puncak Gunung Merapi. Ketinggian lokasi 914,8 meter di atas permukaan laut mdpl,” katanya. Tim Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, pun telah melakukan kunjungan langsung ke lokasi pada pekan lalu. “Selama kunjungan tersebut diperoleh informasi bahwa sebagian besar wisatawan atau peziarah sudah pernah bahkan sering melakukan tradisi ziarah ke petilasan Syekh Jumadil Kubro jauh sebelum jalur jalan ini dibangun,” sebut Ishadi. Sebelumnya 1 2 Selanjutnya Dari situlah warga makin yakin itu bukan makam orang sembarangan. Tak hanya di Semarang, makam atau petilasan Syekh Jumadil Kubro diyakini berada di sejumlah tempat di antaranya di Mojokerto, Sleman, Jogjakarta, dan Makassar. Menurut Imam, Syekh Jumadil Kubro memang pernah melakukan riyadhoh di Gunung Merapi untuk mencari petunjuk. Setelah itu, dia berdakwah ke berbagai daerah di Pulau Jawa. Imam menaljutkan cerita. Sekitar tahun 1998, saat jalan tol dibangun, tak ada alat berat yang dapat meratakan dan menggusur lokasi tersebut. Hingga akhirnya titik pembangunan jalan digeser ke sebelah makam. “Ya itu kedua karamah yang saya tahu dari beliau. Yang tidak saya tahu lebih banyak lagi mungkin,” katanya. Dia mengatakan, banyak pengunjung yang meminta pembukuan sejarah, namun pihaknya belum dapat memenuhi permintaan itu. Harga Tiket Masuk Bukit Turgo Jam Buka 24 Jam No. Telepon – Alamat Desa Hargobinangun, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia, 55582 Kabupaten Sleman yang terletak di sebelah selatan Gunung Merapi memang memiliki alam yang indah dan asri. Di daerah lerengnya, Sleman terkenal dengan kawasan wisata Kaliurang. Tak jauh dari tempat tersebut ada satu wisata alternatif yang bernama Bukit Turgo. Sedikit berbeda dengan Kaliurang, bukit ini merupakan perpaduan wisata alam serta religi. Disebut begitu karena di kawasan bukit dengan tinggi sekitar 1000 Mdpl ini terdapat sebuah makam keramat. Makam milik Syeh Jumadil Kubra yang menurut kepercayaan sebagai sosok penyebar Islam di Jawa. Di samping itu suguhan panorama alamnya pun sangat memanjakan mata. Areanya begitu alami karena masih termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merapi TNGM. Harga Tiket Masuk Bukit TurgoJam Buka Bukit TurgoSekilas Tentang Bukit TurgoZiarah Ke Makam Syeh Jumadil KubraMendaki SantaiKeragaman Flora dan Fauna UnikNikmati Sajian Kopi dan Teh Petani LokalFasilitas Bukit TurgoLokasi Bukit TurgoInfo Menarik Lainnya Harga Tiket Masuk Bukit Turgo Wisatawan yang ingin menikmati keindahan ataupun berziarah di Bukit Turgo akan dikenai tarif masuk. Harga tiketnya terjangkau dan sangat ramah kantong. Siapkan juga uang lebih untuk menikmati sajian kopi dan teh asli dari petani lokal. Harga Tiket Masuk Bukit TurgoTiket Baca DESA LEDOKSAMBI Tiket & Aktivitas Jam Buka Bukit Turgo Tidak ada jam operasional khusus yang berlaku di tempat wisata ini. Wisatawan bisa berkunjung kapan saja ke Bukit Turgo. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah ketika siang hari ketika cuaca cerah. Namun banyak juga para peziarah yang berkunjung pada malam hari. Jam BukaSetiap Hari24 Jam Sekilas Tentang Bukit Turgo Bukit Turgo berada di sebelah selatan Gunung Merapi. Memiliki ketinggian sekitar 1000 Mdpl merupakan salah satu area terbaik untuk menikmati keindahan Merapi. Bukit ini pernah dilanda awan panas erupsi Gunung Merapi pada tahun 1994 dan 2006. Meski berada di kawasan rawan bencana namun hal itu tidak mengurangi rasa penasaran wisatawan untuk berkunjung. Selain pemandangan yang indah bukit ini menjadi tempat persemayaman terakhir tokoh penting Islam di masa lalu. Di atas puncaknya terdapat makam Syeh Jumadil Kubra. Selain itu di tempat ini wisatawan bisa menikmati langsung komoditi khas petani lokal. Bukit Turgo sangat terkenal dengan produksi kopi dan teh yang khas dan berkualitas. Pada saat waktu-waktu tertentu berlangsung kirab budaya dari masyarakat setempat. Baca JOGJA EXOTARIUM Tiket & Aktivitas Ziarah Ke Makam Syeh Jumadil Kubra Salah satu aktivitas favorit wisatawan yang berkunjung yaitu berziarah makam atau wisata religi. Berada di puncak bukit terdapat makam keramat miliki Syeh Jumadil Kubra. Masyarakat juga sering menyebutnya sebagai Kyai Turgo. Syeh Jumadil Kubra adalah salah satu sosok yang menyebarkan Islam di pulau Jawa pada periode pertama. Makam keramat tersebut sangat terawat dengan baik. Memiliki warna merah muda dengan lantai berwarna hitam. Di area makam terdapat informasi yang menjelaskan silsilah keturunan Syeh Jumadil Kubra. Disebutkan beliau adalah generasi keenam keturunan Nabi Muhammad. Sehingga bisa dibilang Syeh Jumadil Kubra adalah nenek moyang para wali di Indonesia. Di bawah area makam terdapat sebuah gua. Gua sering menjadi tujuan para peziarah melakukan tirakat dan berdoa. Baca Bukit Klangon Sleman Tiket & Aktivitas Mendaki Santai Puncaknya yang tidak terlalu tinggi membuat bukit ini cocok untuk sekedar mendaki santai. Bukit Turgo juga bisa menjadi tempat latihan untuk para pendaki pemula. Jalurnya tidak terlalu berat dengan kemiringan standar. Di sepanjang jalur pendakian masih sangat asri dengan pepohonan yang sangat rimbun. Keistimewaan dari bukit ini wisatawan bisa melihat Gunung Merapi dengan sangat dekat. Gunung Merapi akan sangat kelihatan di depan mata dan seolah keduanya saling berhadapan. Selain itu lanskap lembah-lembah di sekitar Gunung Merapi juga terlihat jelas. Kemudian saat memandang ke bawah akan terlihat pesona Sungai Boyong yang berkelok-kelok. Semakin tinggi jalur akan semakin menyempit. Areanya berupa semak-semak yang rimbun. Sehingga sensasi petualangan sangat terasa jika mendaki bukit ini. Di jalur pendakian terdapat dua buah aliran mata air yang dinamai Tuk Lanang dan Tuk Wadon. Baca PURI MATARAM Sleman Tiket & Aktivitas Keragaman Flora dan Fauna Unik Kawasan Bukit Turgo ternyata menjadi tempat tinggal dari flora dan fauna yang unik. Salah satu yang menarik perhatian adalah Anggrek Vanda Tri Color. Bunga tersebut adalah bunga endemi di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi TNGM. Selain itu ada terdapat juga 27 jenis tanaman bambu dan kebun Salak Pondoh. Kemudian sekitar area bukit memiliki beragam hewan amfibi, khususnya katak. Beberapa di antaranya adalah katak Kongkang Racun, Katak Pohon Emas, Bangkong Kerdil, Katak Bertanduk, Bangkong Kolam dan masih banyak lagi. Baca Kampung Flory Wisata Ala Desa Nikmati Sajian Kopi dan Teh Petani Lokal Kawasan Bukit Turgo ternyata juga terkenal dengan produk kopi dan tehnya yang berkualitas. Di sepanjang perjalanan wisatawan akan sering melihat perkebunan teh dan kopi dari penduduk setempat. Jika tak puas sekedar melihat kebun bisa juga melihat langsung proses produksi kopi maupun teh. Wisatawan bisa ikut dalam pengolahan dan peracikannya hingga siap seduh. Teh dan kopi yang sudah siap seduh dijual dengan harga yang sangat murah dan bisa jadi oleh-oleh. Baca Blue Lagoon Ala Jogja Kerjernihan Kolam Alami Fasilitas Bukit Turgo Obyek wisata ini sudah memiliki sarana dan prasarana yang memadai. Tersedia area parkir, toilet dan kamar mandi hingga mushola. Bagi yang ingin bermalam terdapat penginapan di rumah-rumah warga dengan harga yang terjangkau. Tersedia pula pusat oleh-oleh yang menyediakan produk panen masyarakat setempat seperti kopi, teh dan salak pondoh. Baca Lava Bantal Museum Alam di Sungai Opak Lokasi Bukit Turgo Destinasi wisata ini beralamat di Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Hanya berjarak sekitar 6km dari kawasan wisata Kaliurang. Sementara dari pusat kota Sleman berjarak 20km dan bisa ditempuh dalam waktu 30-45 menit. Tanggapan / 5. dari 26 Berikan Rating Info Menarik Lainnya Makambeliau juga terpencar-terpencaer dengan nama Maulana Maghrobi. Diantaranya Prabu Siliwangi memanggil beliau itu kakek (pernahnya).Jadi Maulan Maghrobi itu lebih tua dari Prabu Siliwangi. Diantara anggota rombongan ada yang wafat satu orang. Yang wafat ini dimakamkan di pesisir Semarang. Juga dikenal dengan Syekh Jumadil Kubro.
Tempat Wisata Religi di Jogja – Yogyakarta sebagai salah satu kota wisata memang tidak perlu diragukan lagi. Jogjakarta tidak hanya memiliki tempat-tempat dengan keindahan alam yang menawan. Akan tetapi, Jogjakarta juga menyimpan banyak tempat religi Islam yang bersejarah. Tidak heran, jika setiap orang yang berkunjung ke Jogjakarta tentu memiliki tujuan wisata yang berbeda-beda. Biasanya, ada yang berkunjung ke tempat wisata alam untuk menikmati keindahan alamnya, ada juga yang pergi ke wisata religi yang tidak kalah menarik dengan segudang manfaat, khususnya mereka yang ingin menambah pengetahuan tentang sejarah hingga mempertebal apabila Anda menyukai wisata dengan nuansa Islami yang menenangkan, mulai dari masjid hingga makam-makam bersejarah Islam lainnya maka Anda wajib mampir ke beberapa destinasi wisata religi di Jogjakarta. Berikut daftar wisata religi terbaik di Jogjakarta. Sebelum membaca artikel lebih jauh, kamu bisa memesan Paket Wisata Jogja di ya gaes. Ada banyak pilihan paket wisata yang bisa kamu pilih atau bisa costum sendiri Religi JogjakartaMasjid Gedhe Kaumansumber Gedhe Kauman dikenal sebagai Masjid Raya Jogjakarta yang megah, yang didirikan pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I. Masjid ini merupakan bagian dari sejarah sejak zaman Keraton Ngayogyakarta yang keberadaanya sangat terawat sehingga bentuknya orisinil seperti waktu pertama dibangun. Ciri khas dari masjid ini ialah keberadaan empat pilar utama atau saka guru dengan atap berbentuk tajug lambang teplok. Di dalam masjid juga terdapat 48 pilar dengan atap 16 sisi tiga tingkat yang bermakna tiga tahapan pencapaian kesempurnaan hidup manusia.. Selain itu, juga terdapat ruangan khusus bagi raja ketika hadir di masjid, dikenal dengan nama maksura’, yang berada di shaf terdepan. Hal menarik dari masjid Gedhe Kauman ini, biasanya setiap hari kamis terdapat takjil untuk umum dengan menu gulai kambing. Selain itu, setiap sore dalam bulan Ramadan, masjid ini juga akan mengadakan kajian khusus hingga dengan buka puasa bersama. Masjid ini sampai sekarang masih aktif digunakan untuk sholat dan aktivitas religi lainnya sehingga bisa menjadi pilihan wisata religi menarik bagi Anda yang ingin mengunjungi wisata religi di Jogjakarta. Selain aksesnya yang sangat mudah, masjid ini juga terletak di sebelah barat kompleks Alun-alun Utara dan barat daya Pasar Agung KotagedeMasjid Agung Kotagede merupakan masjid tertua yang banyak menyimpan sejarah mendalam karena dibangun pada masa kejayaan kerajaan Mataram di bawah kekuasaan Sultan Agung tahun 1640. Bangunan masjid ini terbagi menjadi beberapa bagian diantaranya bagian halaman, pagar keliling, masjid, dan makam. Makam tersebut dijadikan sebagai tempat peristirahatan terakhir keturunan raja-raja Mataram Islam. Selain itu, ada juga makam yang terletak di belakang masjid, makam tersebut untuk tokoh penting kerajaan, seperti Ki Ageng Pamanahan, Sultan Hamengku Buwono II, Panembahan Senopati, dan Panembahan Seda Krapyak. Masjid ini bisa menjadi pilihan wisata religi menarik bagi Anda yang ingin berziarah, beribadah, maupun menambah wawasan keislaman dengan mengamati arsitektur kuno yang indah. Masjid ini terletak di daerah Kabupaten SyuhadaMasjid Syuhada merupakan wisata religi Jogjakarta yang unik karena awalnya dibangun sebagai monumen penghormatan para syuhada, yakni tentara Islam yang gugur di peperangan kala itu. Namun seiring keperluan untuk tempat beribadah, monumen tersebut diubah menjadi masjid sehingga banyak kalangan yang menilai bahwa masjid Syuhada menjadi pelopor desain masjid modern pertama di Indonesia. Masjid ini memiliki bangunan yang megah dengan ornamen dan warna biru dan hijau yang dominan. Masjid ini bisa menjadi pilihan wisata religi menarik bagi Anda yang ingin menambah wawasan tentang sejarah Islam sekaligus mendekatkan diri kepada Tuhan, yakni dengan berkunjung ke Masjid Syuhada yang terletak di Jl. I Dewa-Nyoman Oka 13, Kotabaru, Pathok Nagorosumber Pathok Nagoro merupakan salah satu masjid yang juga memiliki kaitan dengan sejarah kesultanan dan keraton Jogjakarta. Masjid ini memiliki arsitektur serta tata ruang khas keraton. Uniknya, masjid ini terdiri dari lima rangkaian yang tersebar di beberapa daerah, yang pernah digunakan sebagai bangunan religius, pertahanan rakyat dari penjajah, serta tanda kekuasaan raja. Masjid ini bisa menjadi pilihan wisata religi menarik bagi Anda yang menyukai bangunan klasik serta ingin menambah wawasan tentang sejarah Islam. Berikut daftar masjid-masjid Pathok Negoro beserta lokasinyaMasjid Dongkelan yang terletak di Kauman, Dongkelan, Tirtonirmolo, Babadan yang terletak di Kauman, Babadan, Banguntapan, Wonokromo yang terletak di Wonokromo, Plered, Mlangi yang terletak di Mlangi, Nogotirto, Gamping, Plosokuning yang terletak di Ploso Kuning, Ngaglik, SlemanDusun MlangiDusun Mlangi merupakan salah satu tempat wisata religi di jogja yang terkenal sebagai desa para santri, yang terletak di Desa Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman. Dusun ini memiliki sejarah Islam yang sangat kental, bahkan seorang Gus Tafied pernah berkata jika Dusun Mlangi adalah tempat lahirnya Islam Mataraman. Dusun Mlangi juga menjadi tempat dimakamkannya Kyai Nur Iman, yakni tokoh penyebar agama islam di Mlangi. Menurut sejarah, Kyai Nur Iman yang memiliki nama asli Pangeran Hangabehi Sandiyo tersebut adalah kakak dari ultan Hamengku Buwono I. Selain itu, banyak pesantren-pesantren yang mendidik para santrinya dari berbagai usia sehingga desa ini memiliki religiusitas yang tinggi. Dusun ini bisa menjadi pilihan wisata religi menarik bagi Anda yang ingin belajar tentang sejarah Islam dan Wisata Religi di Jogja Kampung Jogokariyansumber Jogokariyan adalah salah satu kampung ramadan terpopuler yang ada di Jogjakarta. Kampung ini memiliki masjid Jogokariyan yang biasanya menyediakan sekitar porsi menu buka puasa setiap harinya. Selain itu, kampung ini juga selalu mengadakan tarawih bersama imam dari Palestina, pentas nasyid, dan banyak program menarik lainnya. usun ini bisa menjadi pilihan wisata religi menarik bagi Anda yang ingin menghabiskan waktu sore sambil menunggu adzan magrib berkumandang sekaligus mencari menu buka gratis dan memburu jajanan untuk takjil tambahan serta melaksanakan ibadah tarawih selama bulan puasa. Tempat Wisata Religi di Jogja Makam Syekh Jumadil Kubro MerapiSyaikh Jumadil Kubro adalah seorang tokoh penyebar agama Islam di Jawa pada masa kerajaan Majapahit. Syaikh Jumadil Kubro dianggap sebagai bapak dari para Walisongo karena Sunan Ampel dan Sunan Giri merupakan cucu dari beliau. Dengan begitu, Makam Syekh ini menjadi salah satu wisata religi di Yogyakarta yang banyak dikunjungi oleh peziarah. Meski makam Syekh ini berada di dataran tinggi yang letaknya tidak jauh dari gunung Merapi, tetapi banyak peziarah yang tetap berkunjung. Hal menarik dari makam Syekh ini berupa pemandangan dari petilasan yang sangat indah sehingga menjadi salah satu wisata religi terbaik di Yogyakarta. Makam ini bisa menjadi pilihan wisata religi menarik bagi Anda dengan pemandangan merapi yang indah sekaligus untuk menambah pengetahuan mengenai sejarahnya. Makam ini terletak di Bukit Turgo, Kaliurang, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman.

MakamSyekh H. Sa'aduddin (Kubah Taniran) - Kandangan HSS ; Makam Datu Ahmad (Balimau) - Kandangan HSS Syekh Jumadil Kubro - Terboyo; Sunan Terboyo - Kaligawe; Syekh Abdul Manan - Bergota sebelah Sunan Darat Yogyakarta. Syekh Maulana Maghribi - Parangtritis Parangkusumo Bantul; Sutowijoyo (Pangeran Senopati) - Kota Gede

Riwayat Keluarga Syekh Jumadil Nasab Syekh Jumadil Wafat Guru Syekh Jumadil Kubro Anak-Anak Syekh Jumadil Kubro Perjalanan Dakwah di Daerah Jawa 1 Riwayat Hidup dan Keluarga Lahir Syekh Jumadil Kubro adalah salah seorang Ulama yang memiliki karomah cukup besar. Beliau adalah seorang yang mempunyai garis keturunan cukup dekat dari Rasulullah SAW. Beliau lahir pada tahun 1349 M di kota Samarkhand, dekat kota Bukhoro, wilayah Negara Azarbaijan. Nama lahir beliau Husain Jamaluddin Akbar Riwayat Keluarga Syekh Jumadil Kubro Beliau menikah dengan wanita dari Samarkand dan dikaruniai tiga orang putra Ibrahim Asmoroqondi/ As-Sayyid Ibrahim Zainuddin As-Samarqandy Ali Nurul Alam Barakat Zainul Alam Nasab Syekh Jumadil Kubro Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Sayyidah Fathimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib Al-Imam Al-Husain Al-Imam Ali Zainal Abidin Al-Imam Muhammad Al-Baqir Al-Imam Ja’far Shadiq Al-Imam Ali Al-Uraidhi Al-Imam Muhammad An-Naqib Al-Imam Isa Ar-Rumi Al-Imam Ahmad Al-Muhajir As-Sayyid Ubaidillah As-Sayyid Alwi As-Sayyid Muhammad As-Sayyid Alwi As-Sayyid Ali Khali’ Qasam As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath As-Sayyid Alwi Ammil Faqih As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan As-Sayyid Abdullah As-Sayyid Ahmad Jalaluddin As-Sayyid Husain Jamaluddin Al-Akbar Wafat Syekh Jumadil Kubro wafat pada 15 Muharram 857 H/ 1465 M beliau wafat berusia 116 tahun, dan dimakamkan di desa Troloyo Mojokerto. 2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Syekh Jumadil Kubro Beliau dididik dan dibesarkan oleh ayahanda Sayyid Ahmad Jalaludin. Guru Syekh Jumadil Kubro Sayyid Ahmad Jalaludin. 3 Penerus Syekh Jumadil Kubro Anak-anak Syekh Jumadil Kubro Ibrahim Asmoroqondi/ As-Sayyid Ibrahim Zainuddin As-Samarqandy Ali Nurul Alam Barakat Zainul Alam 4. Perjalanan Dakwah Syekh Jumadil Kubro Perjalanan dakwah Syekh Jumadil Kubro dipenuhi berbagai liku-liku. Secara umum perjalanan Syekh Jumadil Kubro dapat dijelaskan sebagai berikut Perjalanan Dakwah di Daerah Jawa Di Turki beliau beserta keluarga dan rombongan mendapat tugas dari Sultan Turki yaitu Sultan Mahmud 1. Untuk berangkat ke Jawa Dwipa untuk melakukan misi kenegaraan sekaligus misi dakwah. Dalam perjalanan tersebut yang berangkat menuju ke Jawa Dwipa adalah Syekh Jumadil Kubro Syekh Ibrahim Asmoroqondi Syekh Jumadil Kubro Syekh Zainal Barakat Alam Syekh Jumadil Kubro Syekh Ali Nurul Alam Syekh Jumadil Kubro Syekh Maulana Malik Ibrahim Syekh Subakir Syekh Ali Akbar Syekh Maulana Maghribi Syekh Hasanudin Syekh Aliyudin Syekh Malik Israil Dalam perjalanan menuju Jawa rombongan mampir di daerah Pasai. Dan di sanalah beliau berpisah dengan Syekh Ibrahim Asmoroqondi yang memutuskan untuk menetap dan berdakwah di Pasai. Pada tahun 1399 Rombongan dari Turki telah tiba di awa. Mereka menuju daratan Tandhes, sebuah pelabuhan terbesar di Jawa kala itu. Selepas turun dari kapal, para utusan Turki beristirahat sejenak melepas lelah. Kemudian perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat menuju Trowulan. Sesampai disana mereka merasa terhibur , ternyata di Trowulan juga telah ada sekelompok masyarakat Muslim. Bukan muslim asing seperti mereka, tapi muslim pribumi. Di istana rombongan disambut dengan baik oleh Baginda Prabu Wikrama Wardhana. Dijamu dengan kehormatan layaknya utusan dari Negara jauh. Dakwah Mereka untuk mengislamkan Prabu Wikramawardhana belum berhasil, akan tetapi mereka dipersilahkan untuk melakukan dakwah asal tidak melakukan cara pemaksaan dan kekerasan. Para ulama dari mancanegara itu pun akhirnya menyusun rencana lain, berdakwah dengan cara mereka sendiri-sendiri. Setelah dilakukan musyawarah akhirnya diputuskan sebagai berikut Syekh Jumadil Kubro dan kedua putranya Ali dan Zainal memutuskan tinggal dan berdakwah di Trowulan. Syekh Maulana Malik Ibrahim Memutuskan untuk tinggal dan berdakwah di daerah Tandhes. Syekh Malilk Israil, Syekh Hasanudin, dan Syekh Aliyudin memutuskan untuk tinggal dan berdakwah di daerah Banten. Syekh Maulana Maghribi, Syekh Subakir, dan Syekh Ali Akbar Memutuskan untuk tinggal dan berdakwah di daerah Jung Mara Jung Mara adalah nama lama bagi pelabuhan Jepara. Di Trowulan. Syekh Jumadil Kubro memulai kehidupan baru sebagai pedagang, bersama dua putranya. Tidak ada kesulitan bagi beliau untuk mencari barang dagangan lantaran di daerah Tandhes banyak dijumpai para pedagang muslim dari mancanegara yang siap membantu mereka. Kegiatan dakwah pun berjalan lancar, selancar usaha dagangnya. Komunitas muslim pun kian tertata meskipun jumlahnya tidak seberapa. Awal perjalanan dakwah Syekh Jumadil Kubro juga mengalami kesulitan. Akhirnya beliau berkenalan dengan Tumenggung Mojopahit yang bernama Tumenggung Satim Singomoyo. Karena hanya beliaulah seorang pejabat kerajaan yang bisa diajak musyawarah tentang kesulitannya di dalam berdakwah untuk mengembangkan ajaran Islam. Kala itu beliau sudah memeluk agama Islam walaupun hal ini tidak berani dilakukan secara terang-terangan. Hanya Tumenggung Satim Singomoyo lah yang bisa diajak bertukar pendapat tentang bagaimana cara mengembangkan ajaran Islam ditanah Jawa utamanya di lingkungan kerajaan yang masyarakatnya kala itu sudah sangat terpengaruh dengan ajaran Hindu dan Budha. Alhamdulillah, dengan keberadaan Tumenggung Satim Singomoyo, akhirnya sedikit demi sedikit masyarakat Mojopahit memeluk Islam, termasuk yang berada di lingkungan kerajaan. Dari informasi Tumenggung Satim Singomoyo Inilah Syekh Jumadil Kubro bisa mengerti lebih jauh tentang adat istiadat dan budaya masyarakat di daerah Trowulan. Setelah wafatnya Gajah Mada dan Prabu Hayam Wuruk sekitar abad 14 mulai surut pamor dan kejayaan Majapahit. Perang saudara antara Wikramawardhana dengan Wirabumi mengakibatkan melemahnya kendali pusat pemerintahan kerajaan Majapahit. Penduduk Majapahit terutama dari Kasta Sudra dan Waisya golongan masyarakat buruh dan petani yang selama ini menempati derajat rendah dan hina mulai mengalami pembangkangan dan pemberontakan. Mereka merasa tidak dapat menerima adanya perbedaan derajat manusia. Kondisi yang demikian ini sangat menguntungkan bagi penyebaran agama Islam yang mengajarkan persamaan harkat, martabat dan derajat manusia. Ajaran ini menjadi berkembang, utamanya dikalangan masyarakat petani, nelayan, buruh dan pegawai kerajaan. Keadaan di sekitar pusat kerajaan Majapahit semakin lama semakin memprihatinkan, baik akibat terjadinya perang saudara maupun akibat sering terjadinya perselisihan diantara pegawai kerajaan yang sudah memeluk Islam dan pegawai kerajaan yang masih beragama Hindu. Situasi ini ternyata membawa manfaat yang cukup besar bagi Syekh Jumadil Kubro, penampilan yang sejuk tutur bicara yang santun ketika beliau beranjangsana ke keluarga kerajaan menjumpai Dewi Dwarawati Darawati Murdaningrum ternyata dapat membawa ketentraman di hati Prabu Kertawijaya. Hingga suatu saat, Dewi Dwarawati menyampaikan usul pada Prabu Majapahit atas saran pandangan Syekh Jumadil Kubro supaya Prabu Majapahit mengundang seorang tokoh yang dianggap mampu menentramkan situasi kerajaan yang sedang dilanda kekacauan itu. Perlahan tapi pasti, masyarakat kelas bawah mulai berbondong-bondong memeluk agama Islam, mengikuti ajaran Syekh Jumadil Kubro yang dengan bijak dan santun menyampaikan misi dalam dakwahnya. Syekh Jumadil Kubro memiliki semangat tinggi dalam memperjuangkan agama Islam. Bahkan usianya yang sudah lebih dari seratus tahun belum pernah surut perjuangannya. Dalam usia yang sangat tua itu Sayyid Jumadil Kubro punya niat ingin mati syahid. Dengan niatnya yang baik itu Sayyid Jumadil Kubro bersemedi empat puluh hari memohon kepada Allah semoga akhir hayatnya dijadikan orang yang mati syahid. Pada tahun 1465 M Wali Songo sedang membangun Masjid Demak, sedangkan kerajaan Majapahit mengadakan rapat mendadak. Semua Adipati hadir, kecuali Raden Patah, atas usulan Adipati yang beragama Hindu, Raden Patah harus dipanggil dan diadili karena tidak mentaati peraturan kerajaan Majapahit. Dengan semangat para Adipati yang beragama Hindu berangkat ke Demak bertujuan memanggil paksa Raden Patah. Namun setelah di Demak, para Adipati tersebut ditemui oleh Syekh Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi. Setelah para Adipati menyampaikan tujuannya memanggil paksa Raden Patah, dengan nada keras Syekh Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi mengusir para Adipati yang punya niat buruk itu. Sehingga terjadilah pertempuran yang akhirnya para Adipati mundur kembali ke Mojopahit. Setelah itu, Syekh Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi beserta para santri berangkat ke Majapahit, tujuannya memerangi para Adipati yang masih beragama Hindu itu. Setibanya di Majapahit terjadilah peperangan yang sangat dahsyat sehingga banyak Adipati yang gugur. Namun sudah menjadi niat Syekh Jumadil Kubro ingin mati syahid, maka saat itu juga Syekh Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi juga gugur di medan peperangan. Dan tempat terjadinya peperangan di desa Troloyo pada tanggal 15 Muharram 857 H. Adapun Sayyid Jumadil Kubro dimakamkan di desa Troloyo, dan beliau wafat berusia 116 tahun. Sedangkan Maulana Maghribi oleh para santrinya dimakamkan di Jatianom Klaten Jawa Tengah di pesantrennya. 5 Keteladanan Syekh Jumadil Kubro Syekh Jumadil Kubro adalah tokoh yang sering disebutkan dalam berbagai abad dan cerita rakyat sebagai salah satu pelopor penyebaran Islam di Jawa. Bisa dikatakan kakeknya Walisongo. Syekh Jumadil Kubro merupakan tokoh kunci proses Islamisasi di tanah jawa yang hidup sebelum Walisongo yang mampu menembus dinding kebesaran kerajaan Majapahit. Beliau juga berdakwah bersama para ulama-ulama lain dan mempunyai modal tersendiri untuk menyebarkan agama. Beliau umumnya dianggap bukan keturunan Jawa, tapi berasal dari Asia Tengah. Syekh Jumadil Kubro menjadi tokoh kunci dalam penyebaran Islam di Jawa. Beliau datang dari Samarkand Uzbekistan melalui laut ke jawa atau orang-orang Islamis yang tetap kuat dalam agama Hindu pada masa pemerintahan Majapahit. Syekh Jumadil Kubro kemudian tinggal di Jawa. Syekh Jumadil Kubro memiliki semangat tinggi dalam memperjuangkan agama Islam. Bahkan usianya yang sudah lebih dari seratus tahun belum pernah surut perjuangannya Syekh Jumadil Kubro untuk terus melakukan dakwah. Awal dimulai dakwah dengan cara berdagang. Tidak ada kesulitan bagi beliau untuk mencari barang dagangan lantaran di daerah Tandhes banyak dijumpai para pedagang muslim dari mancanegara yang siap membantu mereka. Kegiatan dakwah pun berjalan lancar, selancar usaha dagangnya. Komunitas muslim pun kian tertata meskipun jumlahnya tidak seberapa. Penampilan yang sejuk tutur bicara yang santun ketika beliau menyampaikan dakwah hingga beliau dianggap tokoh yang dianggap mampu menentramkan situasi kerajaan Majapahit yang sedang dilanda kekacauan pada waktu itu. Perlahan tapi pasti, masyarakat kelas bawah mulai berbondong-bondong memeluk agama Islam, mengikuti ajaran Syekh Jumadil Kubro yang dengan bijak dan santun menyampaikan misi dalam dakwahnya. 6 Referensi Buku Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto, Buku Wali Songo Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, Agus Sunyoto, Jakarta Transpustaka, 2011 Babad Wali Songo, Yudhi AW,2013 Sejarah Wali Sanga, Purwadi, Dakwah Wali Songo, Purwadi dan Enis Niken, Babad Wali Songo, Yudhi AW,2013 Mukarrom, Akhwan. Sejarah Islam Indonesia I. Surabaya Uin Sunan Ampel, 2014.
KisahKH Abdullah Sajjad Sumenep: Ditembus Peluru Belanda, Syahid Dalam Sujud Makam Syekh Jumadil Kubro di Troloyo, Mojokerto. Sebuah pusara dikenal sebagai Kubur Tunggal. Disebut begitu karena sebelum dibangun cungkup yang besar seperti sekarang, pusara itu terletak di dalam sebuah cungkup dan berdiri sendiri. Di sinilah konon Syekh Jumadil Kubra dimakamkan. Seorang syekh yang kepadanya semua wali Jawa dihubungkan. Pada nisannya terdapat kutipan ayat-ayat Al-Qur’an "tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu" Ali Imran 185 dan "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati" Al-Ambiya 35. Kutipan lainnya berbunyi "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada kami kamu dikembalikan" Al-Ankabut 37; "Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan" Ar-Rahman 26-27; dan "Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah" Surat Al-Qasas 88. Selain itu, ada dua kalimat dalam bahasa Arab dan Asmaul Husna. Sedangkan nama Syekh Jumadil Kubra malah tak tertera pada nisan. Kendati demikian, haulnya digelar rutin. Peziarah berdatangan setiap malam Jumat Legi membuat makam Troloyo di Trowulan, Mojokerto, itu terkenal sebagai tempat peristirahatan terakhir sang mubalig. Melegenda di Seluruh Jawa Kisah Syekh Jumadil Kubra sebetulnya simpang siur. Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat menyebutkan, Syekh Jumadil Kubra diceritakan dalam berbagai legenda yang berkembang dalam kepustakaan berbahasa Jawa. Ada pula yang menghubungkannya dengan Majapahit. Babad Cirebon menyebut Syekh Jumadil Kubra sebagai moyang para wali Jawa, seperti Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Ampel. "Bahkan juga wali yang paling Jawa di antara para wali, Sunan Kalijaga," tulis Van Bruinessen. Menurut Martin, sebuah sejarah Gresik berbahasa Jawa menyebut Syekh Jumadil Kubra sebagai kakek buyut seorang wali lainnya lagi, Sunan Giri pertama. Kisahnya menyebut Syekh Jumadil Kubra adalah ayah dari Sunan Ampel yang menetap di Gresik. Sunan Ampel mempunyai anak bernama Maulana Ishaq yang menikahi putri raja Blambangan dan beroleh anak, Sunan Giri. Sementara itu, Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java mencatat versi lain dari legenda di Gresik, bahwa Syekh Jumadil Kubra bukanlah seorang moyang, melainkan pembimbing wali yang pertama. Raden Rahmat yang kelak menjadi Sunan Ampel datang dari Champa ke Palembang kemudian meneruskan perjalanan ke Majapahit. Mula-mula Raden Rahmat ke Gresik mengunjungi seorang ahli ibadah yang tinggal di Gunung Jali, bernama Syekh Molana Jumadil Kubra. Menurut Syekh Molana Jumadil Kubra kedatangan Raden Rahmat telah diramalkan oleh Nabi, bahwa keruntuhan agama kafir telah dekat. Raden Rahmat dipilih untuk mendakwahkan ajaran Muhammad di pelabuhan timur Pulau Jawa. Van Bruinessen juga mencatat cerita lisan di desa-desa yang terletak di lereng Gunung Merapi, sebelah utara Yogyakarta. Syekh Jumadil Kubra dipercaya sebagai wali muslim Jawa yang paling tua. Ia berasal dari Majapahit dan hidup sebagai pertapa di hutan gunung itu. Legenda rakyat berbahasa Jawa dari wilayah Tengger, Cariose Telaga Ranu, juga menyebut nama Maulana Ishaq dan Syekh Jumadil Kubra. Keduanya adalah saudara dari dua pertapa, Ki She Dadaputih di Gunung Bromo dan Ki She Nyampo di Sukudomas. "Maulana Ishaq pergi ke Blambangan dan menjadi ayah Raden Paku Sunan Giri. Jumadil Kubra menjadi guru di Mantingan," tulis Van Bruinessen. Keberadaan Syekh Jumadil Kubra di Mantingan juga disebut dalam Serat Kandha. Ia disebut sebagai salah satu dari empat tokoh suci umat Islam di zaman kuno. Tiga lainnya yaitu Nyampo di Suku Dhomas, Dada Pethak di Gunung Bromo, dan Maulana Ishak di Blambangan. Isno, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Raden Wijaya Mojokerto, menambahkan, nama Syekh Jumadil Kubra juga dikenal di kalangan pengikut Syekh Siti Jenar. "Menurut cerita tutur, Syekh Jumadil Kubra adalah teman baik Syekh Siti Jenar saat membawa penawar atas tanah-tanah angker bekas pemujaan aliran Yoga-tantra," tulis Isno dalam "Pendidikan Islam Masa Majapahit dan Dakwah Syekh Jumadil Kubra", terbit di Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 03, No. 01, Mei 2015. Bukan Makam Satu-satunya Kisah Syekh Jumadil Kubra menjadi legenda di empat wilayah, yaitu Banten-Cirebon, Gresik-Majapahit, Semarang-Mantingan, dan Yogyakarta. Menurut Van Bruinessen, ada kesan seolah orang Islam Jawa pada zaman dan tempat berbeda semua bertolak dari nama Syekh Jumadil Kubra. Makam Syekh Jumadil Kubra pun ada di beberapa tempat. Selain di Troloyo, sebuah makam tua di antara tambak daerah pesisir pantai di Terbaya, tidak jauh dari Semarang, diyakini penduduk sekitar sebagai makam Syekh Jumadil Kubra. Keyakinan ini berdasarkan kisah dalam Babad Tanah Jawi yang menuturkan Syekh Jumadil Kubra pernah melakukan tapa di Bukit Bergota di Semarang. Baca juga Gajah Mada dan Islam di Majapahit Makam keramat lain berada di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Desa Turgo. Keberadaannya disertai cerita lisan yang beredar di kawasan itu. Sementara itu, kisah Syekh Jumadil Kubra di Gresik dan Mantingan tidak meninggalkan jejak makam maupun petilasan. Makam Syekh Jumadil Kubra di Troloyo yang paling umum diakui. Kuburan ini paling sering kunjungi peziarah. Menurut Muhammad Chawari, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta dalam “Fenomena Islam pada Masa Kebesaran Kerajaan Majapahit” yang terbit di Majapahit Batas Kota dan Jejak Kejayaannya, dari seluruh makam di Troloyo yang ada prasastinya hanya satu nisan yang menyebut nama, yaitu Zayn ud-Din atau mungkin bisa dibaca sebagai Zaenuddin. Angka tahun yang tertera pada nisan ini yaitu 874 H atau 1469 M. Paling tidak yang bisa diketahui, mereka yang dimakamkan di sana adalah penduduk kota Majapahit dan keluarga raja yang telah memeluk agama Islam. Khususnya tujuh makam bertuliskan aksara Arab yang letaknya tak jauh dari pusat kota Majapahit. Dari angka tahun yang tertulis pada nisannya, ada satu yang terbaca 874 H atau dalam tahun Saka 1391 1469 M. Artinya, muslim atau mungkin kerabat raja Majapahit yang muslim sudah ada sejak Hayam Wuruk berkuasa. "Pada waktu Majapahit mencapai puncak keemasan di bawah Raja Hayam Wuruk, agama Islam sudah dianut oleh penduduk ibu kota Majapahit," tulis Chawari. Menurut Chawari dasar dan maksud mengidentikan Kubur Tunggal di Troloyo dengan Syekh Jumadil Kubra belum bisa dipastikan. Yang jelas, nama yang kini dikenal tak ada hubungannya dengan makam. Itu bukanlah nama sesungguhnya. Nama itu semata-mata hanya untuk mempermudah indentifikasi. Lagi pula bukan cuma Syekh Jumadil Kubra yang diidentikan dengan makam-makam Islam kuno di Trowulan. Syekh Maulana Ibrahim, Syekh Abdul Qodir Jaelani, Syekh Maulana Sekah, dan Syekh Ngundung pun dipercaya menjadi penghuni makam era Majapahit itu. "Secara umum tokoh itu pernah berjaya dan sangat dikenal di masa lalu, tidak di daerah Troloyo saja namun juga di daerah lain dalam kurun yang lain pula," tulis Chawari. "Dengan kata lain nama tokoh itu bukan nama tokoh sejarah yang berhubungan dengan makam Troloyo." hBJPp1.
  • igg97fvrqc.pages.dev/328
  • igg97fvrqc.pages.dev/183
  • igg97fvrqc.pages.dev/121
  • igg97fvrqc.pages.dev/41
  • igg97fvrqc.pages.dev/290
  • igg97fvrqc.pages.dev/331
  • igg97fvrqc.pages.dev/159
  • igg97fvrqc.pages.dev/311
  • makam syekh jumadil kubro jogja